Shambala

Melanjutkan post sebelumnya tentang jiwa yang terlepas, lebih enak jika dimulai dengan cerita mimpi tentang Shambhala atau Shangri-La. Kenapa? Karena mimpi tentang Shambhala inilah awal dari mimpi jiwa yang terlepas. Ini adalah mimpi pertama saya di mana jiwa saya meninggalkan tubuh. Di mimpi ini, tentu saja, saya pergi menuju Shambhala.
Tentu kita semua tahu bahwa Shambhala sendiri merupakan sebuah mitos, sebuah tempat yang berada di Tibet. Namun namanya juga mimpi, tidak ada yang tidak mungkin kan? Di mimpi saya sendiri, sebenarnya Shambhala juga tidak ada. Tidak ada orang yang pernah ke sana. Dan seperti halnya dalam dunia nyata, Shambhala sendiri merupakan mitos. Lalu bagaimana caranya saya bisa ke sana?
Pertama-tama saya jelaskan dulu tentang Shambhala di mimpi saya. Shambhala tidak berada di bumi dan tidak satu dimensi dengan bumi. Maka dari itu tidak ada orang yang bisa menemukannya dan kenapa dianggap mitos saja. Dan kenapa dokumen sejarah menunjukkan Shambhala berada di Tibet, itu karena di sanalah pintu menuju Shambhala berada. Dan memang tidak ada manusia yang bisa ke Shambhala. Karena tubuh manusia tidak bisa menembus dimensi. Hanya jiwa manusia yang bisa menuju Shambhala.
Lalu bagaimana jiwa saya bisa ke sana? Cerita ini diawali dari saya melihat Tuhan. Tuhan menampakkan diri kepada saya. Tuhan mengenakan pakaian putih dan celana panjang abu-abu. Namun pandangan saya tertutup oleh pendaran cahaya putih yang memancar. Jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas rupa Tuhan seperti apa. Namun pada saat itu, saya tiba-tiba ‘disadarkan’ untuk bisa mengetahui bahwa saya melihat Tuhan dan bisa berkomunikasi secara langsung, komunikasi dua arah.
Tuhan membuat jiwa saya bisa meninggalkan tubuh saya. Dan ketika jiwa saya sudah lepas dari tubuh, Tuhan mengajak saya berkeliling planet bumi. Dengan cara membawa saya terbang tentunya, Tuhan mengajak saya berkeliling melihat keindahan planet bumi. Hingga pada akhirnya perjalanan terbang berkeliling berakhir di pegunungan Himalaya. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak orang dengan pakaian putih dan celana abu-abu. Baik laki-laki maupun perempuan mengenakan pakaian yang sama. Bedanya mereka tidak memancarkan cahaya dan saya bisa melihat jelas wajah mereka, mereka hanyalah manusia. Dan seperti saya, yang saya lihat pada mereka adalah jiwa mereka. Mereka bersujud ketika Tuhan melewati mereka. Saya hanya berjalan mengikuti Tuhan dari belakang. Lalu setelah meninggalkan jiwa-jiwa itu dan mereka tidak lagi terlihat, Tuhan menghentikan langkahnya dan saya pun berhenti juga. Tuhan menunjuk ke arah langit yang cerah dan saya pun memandangi langit tersebut.
Ketika saya mulai menurunkan pandangan saya, saya terkejut. Karena apa yang saya lihat bukanlah pegunungan Himalaya lagi. Pemandangan berubah menjadi tempat penuh dengan tebing-tebing hijau. Di sisi lain saya melihat ngarai hijau dengan sungai yang sangat jernih di bawahnya. Ada beberapa bangunan di atas tebing-tebing tersebut. Jarak antar bangunan cukup jauh. Dan saya tidak melihat ada jalan atau tangga menuju bangunan-bangunan tersebut.
Dengan kekuasaan Tuhan, saya di bawa menuju Shambhala. Inilah kenapa selama ini Shambhala tidak bisa ditemukan. Hanya Tuhan yang bisa membawa manusia menuju Shambhala. Tuhan menjelaskan, bawha tidak hanya alam semesta yang kita ketahui, surga, dan neraka yang diciptakan-Nya. Banyak tempat lain, banyak dimensi lain yang diciptakan-Nya. Shambhala salah satunya.
Namun Tuhan tidak menjelaskan kepada saya apa itu Shambhala. Untuk apa tempat itu saya tidak diberitahu. Saya hanya diajak berkeliling saja melihat tebing-tebing tinggi itu, bahkan ada yang sampai setinggi awan. Di mana ketika saya sampai di atas sana, saya bisa melihat hamparan awan di bawah, putih bersih dan memancarkan cahaya.
Seperti itu pengalaman saya pergi menuju Shambhala. Jujur saja, cukup sulit bagi saya untuk menjelaskan bagaimana Shambhala itu. Jika satu gambar saja tidak bisa dijelaskan oleh seribu kata, maka Shambhala ini tidak cukup untuk dijelaskan oleh berjuta-juta kata. Namun jika saya harus memilih satu kata untuk menjelaskan Shambhala, maka kata indah merupakan kata yang paling tepat.
Mimpi saya tidak berhenti di Shambhala. Tuhan masih mengajak saya ke banyak tempat lain. Pada dimensi berbeda dan juga yang satu dimensi dengan bumi namun berbeda galaksi. Namun akan saya ceritakan pada kesempatan berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ubah gaya bahasa

Mimpi buruk semalam

Mimpi langit menjadi gelap dan matahari tak terlihat lagi